Model Pembelajaran kontekstual dan collaborative
Model
Pembelajaran Kontekstual
Ada
kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar
lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika
anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang
berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat
jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam
kehidupan jangka panjang. Dengan demikian, penetapan model tertentu dalam hal
ini model pembelajaran kontekstual dirasa penting.
Kesadaran
perlunya model pembelajaran kontekstual didasarkan adanya kenyataan bahwa
sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari
dengan bagaimana pemamfaatannya dalam kehidupan nyata. Hal ini karena pemahaman
konsep akademik yang mereka peroleh hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak,
belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan mereka. Oleh karena itu
diperlukannya model pembelajaran kontekstual.
Menurut
Muslich (2011) bahwa model pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata
siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Menurut
Aqib (2013) secara garis besar, langkah-langkahnya sebagai berikut ini:
a.
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih
bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan
dan keterampilan barunya.
b.
Laksanakan sejauh mungkin kegiatan menemukan untuk
semua topik.
c.
Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
d.
Ciptakan masyarakat belajar.
e.
Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
f.
Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
g.
Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
Secara garis besar, terdapat tujuh
langkah yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai
berikut:
1. Kembangkan
pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara membangun
pengetahuannya sendiri sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong (Construktivism).
2. Laksanakan
sejauh mungkin kegiatan menemukan untuk semua topik(Inquiry).Karena pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa
diharapkan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil
dari menemukan sendiri.
3. Kembangkan
sifat ingin tahu siswa dengan bertanya (Questioning),
karena pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya.
Kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam rangka menggali informasi,
mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada
aspek yang belum diketahuinya.
4. Ciptakan
masyarakat belajar atau belajar dalam kelompok-kelompok (Learning Community). Hasil belajar akan diperoleh dari sharing
antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu.
5. Hadirkan
model sebagai contoh pembelajaran(Modeling).
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model
yang bisa ditiru oleh siswa, misalnya tentang berupa cara mengoperasikan
sesuatu. Dalam pemodelan, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang
dengan melibatkan siswa.
6. Lakukan
refleksi di akhir pertemuan(Reflection),
yaitu cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir ke belakang
tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu.
7. Lakukan
penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara(Authentic Assesment). Assesment merupakan proses pengumpulan
berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Dalam
hal ini dapat dilakukan dengan penialian portofolio.
Dari
pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model
pembelajaran kontekstual (Contextual
Teaching and Learning/CTL) dapat mengembangkan pengetahuan siswa untuk
dapat memecahkan masalah yang terjadi di
lingkungan sehingga diharapkan meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Model
Pembelajaran Colaborative
Pada sistem pendidikan di Indonesia biasa nya
dalam pemberian tugas dilakukan dengan dua cara yaitu secara individu dan
secara kelompok. Kerja kelompok sebenarnya bukan saja akan membuat siswa belajar bersama
dan saling tukar menukar informasi, namun tugas kelompok akan membuat siswa
belajar berorganisasi, belajar management, mempertajam kemampuan
intra dan extra personalnya, memupuk kemampuan komunikasi, kemampuan
bekerjasama dan tidak kalah pentingnya mereka belajar bertanggung jawab dan
kemandirian. Banyak hal bisa dipelajari siswa dengan memberikan pekerjaan
kelompok kepada mereka. Inilah salah satu alasan pentingnya menggunakan model
pembelajaran kolaboratif.
Model pembelajaran kolaboratif merupakan
salah satu model “Student-Centered Learning” (SLC). Pada model ini, peserta
belajar dituntut untuk berperan secara aktif dalam bentuk belajar bersama atau
berkelompok. Gokhale mendefinisikan bahwa “collaborative
learning” mengacu pada metode pengajaran di mana siswa dalam satu
kelompok yang bervariasi tingkat kecakapannya bekerjasama dalam kelompok kecil
yang mengarah pada tujuan bersama.
Dari pengertian kolaborasi yang
diungkapkan oleh berbagai ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian
pembelajaran kolaborasi adalah suatu strategi pembelajaran di mana para siswa
dengan variasi yang bertingkat bekerjasama dalam kelompok kecil ke arah
satu tujuan. Dalam kelompok ini para siswa saling membantu antara satu dengan
yang lain. Jadi situasi belajar kolaboratif ada unsur ketergantungan yang
positif untuk mencapai kesuksesan.
Adapun manfaat dari model pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan
pengetahuan anggota kelompok karena interaksi dalam kelompok merupakan faktor
berpengaruh terhadap penguasaan konsep.
2. Siswa belajar memecahkan masalah bersama dalam kelompok.
3. Memupuk rasa kebersamaan antar siswa, setiap individu tidak dapat lepas dari
kelompoknya, mereka perlu mengenali sifat dan pendapat yang berbeda, serta mampu mengelolanya.
4. Meningkatkan keberanian memunculkan ide atau pendapat
untuk memecahkan masalah bagi setiap siswa yang diarahkan untuk mengajar atau memberi tahu
kepada teman kelompoknya jika mengetahui dan menguasai permasalahan.
5. Memupuk rasa tanggung jawab siswa dalam mencapai suatu tujuan bersama dalam bekerja
agar tidak terjadi tumpang tindih atau perbedaan pendapat yang prinsip.
6. Setiap anggota melihat dirinya sebagai bagian
dari kelompok yang merasa memiliki
tanggung jawab karena kebersamaan dalam belajar sehingga mereka memperhatikan kelompoknya.
Berikut
ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif :
1. Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar
dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2. Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan
menulis.
3. Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi
mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan
jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan
sendiri.
4. Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil
pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara
lengkap.
5. Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak
(selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk
melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas,
siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi
tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30
menit.
6. Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif
melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan
yang akan dikumpulan.
7. Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang
telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8. Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai,
dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
Kelebihan dan
Kekurangan Pembelajaran Kolaboratif
1. Kelebihan
a. Siswa belajar bermusyawarah
b. Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
c. Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
d. Dapat
memupuk rasa kerja sama
e. Adanya persaingan yang sehat
2. Kelemahan
a. Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari
pokok persoalan.
b. Membutuhkan waktu cukup banyak.
c. Adanya sifat-sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri
atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada
orang lain.
d. Kebulatan
atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai
Dengan adanya
pembelajaran kolaboratif, siswa lebih aktif dalam melakukan sesuatu, dengan
dibentuknya kelompok-kelompok tersebut, siswa bisa berkomunikasi langsung
dengan anggota lain dalam membahas tema yang telah ditentukan oleh guru. Di
samping itu, siswa juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan komunikasi.
Guru hanya memantau kegiatan siswa selama pembelajaran, dan guru memberikan
pengarahan jika ada siswa yang memerlukan bantuan. Pembelajaran kolaboratif ini
mengajarkan agar siswa berpikir lebih kritis dan aktif dalam memecahkan masalah
dan mencapai tujuan yang sama.
Sumber
:http://khoerulanwar303.blogspot.co.id/2015/06/pembelajaran-kolaboratif.html
Dari
bacaan diatas tentu kita sudah mengetahui begitu pentingnya suatu model
pembelajaran. Baik model pembelajaran kontekstual maaupun model pembelajaran collaborative.
Pada model pembelajaran kontekstual sendiri banyak sekali mamfaat yang telah
disebutkan. Bagaimanapun suatu model pembelajaran tentu memiliki kelebihan dan
kekurangan. Adapun pertanyaan untuk artikel diatas adalah :
1. Menurut anda apa kekurangan dari
model pembelajaran kontekstual tersebut!
2. Pendidikan di Indonesia mengalami
perubahan kurikulum dari waktu ke waktu dan saat ini di Indonesia kita
menggunakan revisi k-13. Apakah model pembelajarn kontekstual dapat diterapkan
dalam kurikulum saat ini!
3. Menurut pandangan anda apakah model
pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran collaborative dapat dipadukan
dalam suatu proses belajar!
Terimakasih atas ulasannya. Sedikit saya ingin menambahkan, mungkin lebih kepada kelemahan dari model pembelajaran kontekstual ini, adapun kelemahannya yaitu :
BalasHapusKelemahan model pembelajaran kontekstual
1. Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa, padahal dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama.
2. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
3. Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.
4. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
5. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
6. Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lisan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
7. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
8. Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.
Terima kasih atas postingannya saudari hikmah,
BalasHapusmenurut saya model pembelajaran kontekstual dan collaborative sangat mungkin bisa dipadukan dalam proses pembelajaran, karena materi pelajaran yang bersifat kontekstual tidak membatasi model apapun termasuk model collaboratif.
soal nomor 2. menurut saya model pembelajaran kontekstul dapat diterapkan revisi K13 kerena kegiatan pembelajaran revisi K13 sama dengan keunggulan model kontekstual antara lain:
BalasHapus1. Real World Learning
2. Mengutamakan pengalaman nyata,
3. Berfikir tingkat tinggi,
4. Berpusat pada siswa,
5. Siswa aktif, kritis, dan kreatif,
6. Pengetahuan bermakna dalam kehidupan,
7. Dekat dengan kehidupan nyata,
8. Perubahan perilaku,
9. Siswa praktek bukan menghafal,
10. Learning not teaching,
11. Pendidikan bukan pengajaran,
12. Pembentukan manusia,
13. Memecahkan masalah,
14. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara bukan hanya dengan Tes.
Terimakasih ulasannya.. Menurut saya model pembelajaran kontekstual bisa diterapkan dalam kurikulum revisi k13. Selama guru memiliki skill dan kemampuan untuk memadukan pembelajaran kontekstual dengan model lain, maka bs saja model ini dapat d padukan dengan model lain..
BalasHapusAssalamualaikum wr, Wr
BalasHapuskelemahan pembelajaran kontekstual :
1. Proses pembelajaran kontekstual memerlukan waktu yang cukup lama
2. Peran guru sangat diperlukan dalam mengendalikan kelas agar suasana kelas menjadi kondusif
3. Guru dapat lebih intensif dalam membimbing. Karena guru tidak lagi menjadi sumber / pusat informasi. Guru mempunyai tugas dalam mengelola kelas agar dapat bekerja secara tim demi menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru bagi peserta didik. Kemampuan belajar seseorang dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalam yang dimilikinya. Peran guru bukan sebagai instruktur yang memaksakan kehendak, namun sebagai pembimbing peserta didik agar dapat belajar sesuai tahap perkembangannya
4. Guru memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menemukan sendiri ide dan mengajak peserta didik dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi pembelajaran yang mereka biasa.
Terimakasih
Menanggapi pertanyaan nomor 2; Pembelajaran Kontekstual sangat tepat bila diterapkan di K13, sesuai yang dituliskan sdr. Arfah diatas. Kompetensi yang diharapkan ada pada siswa bisa dibangun salahsatunya dengan menerapkan Model Pembelajaran Kontekstual pada beberapa materi yang paling cocok,.
BalasHapustanggapan saya untuk pertanyaan no 3
BalasHapuskedua model pembelajaran tersebut bisa di padukan tergantung pada materi yang diajarkan guru kepada siswanya, karena model pembelajaran tersebut sama sama membangun kreatifitas siswa dalam belajar.
Pembelajaran kontekstual dapat diterapkan pada kurikulum apa saja termasuk kurikulum 2013.
BalasHapus